Teman-teman di Kalimantan, Sumatera dan Papua yang terdampak karhutla apa kabarnya? Semoga kalian baik-baik saja ya, aamiin.
Aku yang tinggal di kota Medan dari pertengahan Oktober asap kiriman dari kota sebelah sudah sampai, akibatnya anak-anak PJJ. Kami yang merasakan sedikit saja sempat merasa susah, mata perih dan nafas mulai terganggu, apalagi kalian yang disana, hiks.
Sudah memasuki tiga bulan kebakaran tidak kunjung usai. Sebagian tanah Kalimantan dan Sumatera itu lahan gambut. Sebaran gambut terluas di Sumatera ada di kota Riau, Jambi, Sumatera Selatan. Sementara itu di Kalimantan yang dulu kita sebut paru-paru dunia hampir seluruh wilayahnya adalah lahan gambut. Tak ketinggalan Papua. Kota-kota yang disebutkan itulah tempat terjadi kebakaran. Beberapa tahun sekali sering kejadian dan sampai dianggap biasa oleh masyarakat, namun tahun ini terbukti yang paling parah dan kejadiannya cukup lama.
Gambut bukanlah Tanah Kosong
Lahan gambut itu bukan sekedar tanah kosong, bukan tanah tidur, juga bukan tanah tidak produktif. Sekilas hanya tampak seperti semak-semak tapi bukan berarti bisa dieksploitasi menjadi perkebunan.
Gambut tersusun dari ranting, akar batang yang jatuh dari banyak pohon, tertumpuk teredam air puluhan tahun yang akhirnya ter-dekomposisi sempurna, tercipta alami menjadi penjaga hutan. Sifatnya seperti spons yang menyerap air karena memang ia lahan basah.
Sebaliknya, ketika hutan dibakar, gambut terdegradasi, rusak. Gambut yang kering mudah sekali terbakar. Saat terbakar, api dapat menjalar dibawah permukaan tanah hingga kedalaman beberapa meter. Ditambah faktor El Nino, makanya diatas sudah tidak ada api, tapi ternyata di dalam api semakin merembet dan kabut tak tampak usai.
Pada akhirnya ketika tanah gambut terbakar bisa menganggu fungsi ekosistem dalam jangka panjang. Asap dari kebakaran juga bisa memperparah krisis iklim.
Jika sekarang dampak yang terlihat pada manusia adalah penyakit ISPA. Orang utan dan teman-teman nya yang kehilangan tempat tinggal, tinggal menunggu waktu ketika musim hujan tiba, penyerapan tidak sempurna bisa menyebabkan banjir. Lebih jauh ancaman nyata bisa terjadi di meja makan kita.
Rusaknya Ekosistem Akibat Karhutla
Sagu, sang Primadona dari Masa lalu
Kebakaran Hutan dan lahan bukan hanya membuat kita kehilangan hutan, jauh dari situ sumber pangan kita terancam.
Dulu, dulu sekali mungkin saat sd yang ku tahu masyarakat Papua dan sebagian kota dari timur terkenal sekali makan sagu, tapi di akhir-akhir ini malah banyak konten kreator yang menunjukkan masyarakat Papua yang menukar hasil tani/kebun menjadi beras biskuit bahkan mie instan.
Salah satu yang tumbuh subur di lahan gambut adalah sagu. Bukan hanya di Papua, tapi dari sabang hingga Merauke. Sebagian Sumatera Jambi, Riau, Palembang dan Kalimantan yang hutannya terbakar saat ini dulunya adalah habitat sagu. Tercatat penduduknya mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokoknya.
Akibat dibakar, gambut kering, punahlah habitat sagu. Pada masanya Karbohidrat tertua yang dimiliki Indonesia sebenarnya adalah sagu. Makanya orang Jawa menyebutnya Sego, Sunda dengan sangu, melayu banjar dan Sumatera menyebutnya rumbia.
Jadi, sagu ini adalah tanaman endemik yang dapat hidup di lahan gambut basah. Masyarakat kita pada masa lalu bisa beradaptasi mendapatkan makanan di lahan gambut tanpa harus memicu kerusakan lahan gambut apalagi membakarnya.
Di masa lalu, beras sendiri termasuk dalam bagian kecil dalam pola konsumsi masyarakat, bahkan di akhir tahun 1950 masih 50% masyarakat yang mengkonsumi.
Biodiversitas, Salah Satu Upaya menjaga keberlangsungan Pangan
Kehancuran lahan gambut pertama sejuta hektar di Kalimantan disebabkan keputusan pemerintah mencetak sawah di sekitar tahun 1997-1998. Penyebab kebakaran hutan terbesar hingga saat ini ketika berniat mengeringkan lahan gambut demi menyeragamkan pangan.
Di masa kini akhirnya beras merupakan makanan pokok di seluruh wilayah Indonesia. Ironisnya semakin hari harga beras semakin tinggi.
Pemenuhan pangan dengan memaksa menyamaratakan pada satu jenis pangan tidak bisa dilakukan. Sejatinya Allah swt menganugerahkan bumi pertiwi ini dengan berbagai pangan lokal yang berbeda. Setiap daerah mempunyai jagoan nya masing-masing.
Kasus terbaru yang menyebabkan hilangnya sumber pangan yang disebabkan pemerintah lainnya adalah proyek Food estate di Merauke. Sebuah proyek ambisius pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan dan energi lagi-lagi dengan cara merusak. Ingatlah ketika kita berniat baik tetapi caranya salah maka tinggal menunggu kegagalan yang datang bukan keberhasilan.
Lagi-lagi karena lahan gambut yang basah memiliki karakteristik tanaman sendiri untuk bisa hidup diatasnya. Jika ia dirusak sifat tanahnya pun berubah sehingga padi yang kita paksakan disitu pun tidak akan berhasil.
Perlahan, pangan lokal tergerus oleh keputusan tidak bijak. Dengan alasan swasembada pangan dan mencari sumber energi baru, hutan di eksploitasi. Hutan dibakar padahal hutan adalah rumah pelindung makhluk hidup. Hari ini ia dibakar untuk kemudian ditanami perkebunan yang sejatinya juga merusak lingkungan.
Lingkaran demi lingkaran setan ini tidak kita tahu kapan berakhir. Kerusakan ekosistem sudah pasti terjadi, kehilangan keanekaragaman pangan pun terjadi.
Gastrokolonialisme pada Pangan
- Makan lokal tersingkir. Mengkonsumsi pangan lokal asli sering ditandai dengan mengkonsumi makanan jadul.
- Ancaman ketahanan pangan dan ketergantungan impor. Masyarakat sudah terlanjur bergantung dengan terigu, maka ketika terjadi sebuah konflik geopolitik ketahanan pangan terancam terhadap komoditas yang tidak bisa ditanam di tanah air.
- Kesehatan. Selain mengikis budaya pangan lokal, yang menjadi konsen adalah kesehatan. Tepung terigu putih umumnya berupa karbohidrat rafinasi glikemik tinggi mengandung gluten yang memicu sensitivitas pada sebagian orang.
Keberagaman adalah kunci
Diversifikasi pangan adalah kunci. Sebuah upaya untuk memperluas variasi makanan yang dikonsumsi agar masyarakat tidak lagi bergantung pada satu jenis makanan.
Makanan dan bahan pangan antara rakyat Sumatera dengan Jawa dengan Papua tidak harus sama, sesuaikan dengan potensi sumber daya, budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Jangan mau lagi dijajah baik perut ataupun pikiran kita.
Semoga kebakaran hutan dan lahan di negeri ini segera selesai. Sungguh tidak tega melihat para korban terutama anak kecil. Maafkan kami saudaraku, kelak di akhirat mari tuntut bersama para penjahat pembakar hutan ini.
#ecobloggersquad #peatlandisnotwasteland @ecobloggersquad @pantaugambut @aik_arif








0 Komentar