Salahkah 'kreatif' itu atau 'dia' yang tidak lagi kreatif?



Gini deh. 
Dulu, dulu banget sekitar taon 2011 belom ada yg namanya transportasi berbasis online. Alhasil naik ojek dari l.bulus ke ciputat doang abis 20ribu loh, bukan sok kaya gak mau ngangkot, waktu itu baru balik dari Banjarmasin (acara organisasi) turun damri malas ngangkot, kan rempong tuh bawa koper (walau kecil) mana turun angkot masi harus jalan lagi, mending gw langsung ngojek walau 20ribu itu mahal (sekali lagi mahal). Andai saat itu ada gojek/grab pasti lebih milih itu secara lebih deket dan tidak melebihi batas gojek.

Lalu masalah grabcar (mobil)
Jadi awal tahun baru lalu, tepatnya januari, kita rame mau kondangan, dibilang jauh, nggak sih, tapi nggak dekat-dekat amat juga, mestinya naik taksi juga bisa, tapi kan daerahnya rawan macet tuh, kita lebih milih grab car dong. kenapa? Lagi-lagi soal harga, siapa sih yang tidak mau kalau harus keluar uang lebih sedikit? Jadi walaupun keduanya sama nyamannya, bedanya yang berbasis online hanya menghitung jarak sebagai bayarannya. Jadi mau macet atau kagak, tidak ada masalah.

Yang namanya kekreatifan itu tidak bisa dibatasi dong, justru harus berbangga krn anak bangsa bisa 'menciptakan' ide.

No, gw nggak bela siapa-siapa, hanya saja kekreatifan itu WAJIB, di dalam 1 program acara tv saja membutuhkan kru kreatif lebih banyak (salah 1 buku ippho juga membahas hal ini) lihat saja pamor nokia yang dulu menjadi primadona milik ayah ibu kita sekarang tidak kelihatan jejaknya, pun seperti tustel (kamera berbasis film bentuk fotonya) well, kalau kita tidak dapat mengembangkan kekreatifan, 'harus' siap tergerus jaman. Sederhananya seperti itu.

Nah, satu lagi ni cerita gw. Jauh sebelum demo hari ini, para angkot lebih dahulu merasakan 'akibat kekreatifan' ini. Pernah sekitar bulan oktober tahun 2015 lalu, gw ngangkot dari ciputat mau menuju cilandak daerah ratu prabu. Mestinya gw turun di lampu merah depan Giant bulus, ganti koantas 510 yamg jurusan kampung rambutan via Cilandak (tidak masuk tol). Tapi berhubung gw dari awal udah ngobrol-ngobrol ke bapak sopirnya (maksud hati sih, cuma nanya angkotnya nyampe tujuan gw gak) eh entah naluri kepo gw kumat atau bapaknya keasyikan curcol, well beliau bilang kalau 'transport kreatif' itu suka gak suka, mau gak mau nurunin pendapatan angkot. Yah pada akhirnya gw rela gak ganti angkutan dan nerusin naik angkot dia dgn resiko gw jalan kaki lumayan krn angkotnya harus putar balik. Abis beliau ngomong begini "Naik sini aja deh neng, kasian saya dari pagi sepi terus, nggak ada penumpang." orang melankolis macam gw jadi nggak tega dong buat turun :D

Sekali lagi, ini tidak ada maksud untuk mihak siapapun, toh gw bagian dari semua angkutan itu (penumpang maksudnya) daripada demo, mogok apalah apalah, apa nggak baiknya duduk bersama menyelesaikan masalah, tentunya bersama pejabat yang terkait.

Hayuk atuh ah dukung negara yang transportasi publiknya itu jagoan, nyaman di hati, nyaman di jalan terutama nyaman di kantong (tetap yang ini paling utama). Biar nggak ada lagi temen-temen gw yang bikin status "duh gimana nih, mu balik kerja naik apa" haha. Lagipula ya, yang gw senang dari transportasi berbasis online ini, para bapak-bapak gojek itu jadi melek internet, coba dulu, megang hp selain buat telepon dan sms pasti nggak bisa. Betul ato betul?

Yah, sebagai pecinta transportasi umum, pastinya gw mau yang baik dong dari negara ini (padahal mah gw lagi di Medan ini, jadi mau demo kagak, kaga ada ngaruhnya) :D

Udah ya, salam transportasi damai!

Posting Komentar

3 Komentar