ROSMIATI, SANG PAHLAWAN IBU HAMIL


Sebagai wanita yang baru mengalami peran sebagai ibu dua tahun ini. Masih teringat jelas hari-hari aku mengandung hingga tiba di waktu persalinan. Beberapa kali USG dilakukan setiap kunjungan ke dokter karena mendapatkan fasilitas dari kantor suami bekerja.

Menjelang sembilan bulan, terlihat bahwa tali pusar atau biasa disebut plasenta berada di bawah. Ditambah ada penyakit asma yang masih sering kambuh sehingga pihak dokter  mengatakan sebaiknya dilakukan metode caesar. Walau hati ingin sekali mengalami proses alami persalinan normal, namun demi kebaikan si buah hati, aku akhirnya menerima keputusan tersebut.

Sekitar sepekan sebelum waktu melahirkan tiba, aku yang dulu tidak pernah berani melihatt video melahirkan, kali ini mau nggak mau memberikan diri. Beberpa video melahirkan secara Caesar aku tonton. Semakin takut rasanya.

Hingga tiba hari H, aku menangis minta izin dan memohon maaf jika selama menjadi istri ada kesalahan dilakukan. Memasuki ruang operasi yang dingin bagaikan freezer, hati semakin tidak karuan. Begitupun ketika bagian perut disterilkan, dipasang kateter dan infus, di dalam kepala terbayang kematian. Zikir dan istighfar tidak putus ku lantunkan dalam hati sembari tubuh mengigigil kedinginan. 

Ketika dokter Anastesi datang dan mengatakan akan menyuntik bagian punggung sebagai bius, aku masih sadar. Pun ketika dokter kandungan datang menyapa, mengatakan, "sudah siap bertemu jagoan bu?" Sudah begitu saja, setelah itu aku tidak mengingat apapun, antara sadar dan tidak. Yang kuingat ketika kemudian suami membawa putra kecil kami di sampingku, aku menangis.


Tingginya AKI (Angka Kematian Ibu) 

Ketika akhirnya aku bisa memeluk putraku setelah beberapa jam di ruang observasi pasca lahiran, aku begitu bersyukur dikarunia kemudahan dalam proses tersebut. 

Aku tinggal di kota, Rumah Sakit yang lengkap fasilitas jika terjadi sesuatu, pun tidak begitu jauh dari tempat ku tinggal. Begitupun kemudahan kemudahan lain.

Maka ketika aku membaca kasus AKI karena peralatan tidak memadai, tinggal di pedalaman, hatiku sesak, aku menangis untuk para Ibu yang sudah berjuang namun harus kehilangan nyawa ketika melahirkan buah hati.

Dilansir dari website, hellosehat(dot)com, berikut beberapa sebab AKI yang terjadi di Indonesia.

Pendarahan Postpartum

Pendarahan sebenarnya biasa terjadi dalam proses melahirkan, namun jika tidak ditangani segera bisa berakibat fatal. Pendarahan terjadi karena robeknya vagina atau dinding rahim atau rahim yang tidak berkontraksi setelah melahirkan. Penyebab lain yang tidak kalah berbahaya adalah masalah plasenta selama kehamilan.

Infeksi Postpartum

Penyebab kedua ini terjadi ketika rahim terinfeksi bakteri. Dan biasanya kantung ketuban yang terlebih dahulu terinfeksi.

Emboli Paru

Artinya gumpalan darah yang menghalangi pembuluh darah di paru-paru. Hal ini biasa terjadi jika gumpalan darah yang ada di kaki dan paha pecah dan mengalir ke paru-paru.

Kardiomiopati

Selama kehamilan, fungi jantung wanita banyak mengalami perubahan. Sehingga ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit jantung beresiko tinggi untuk mengalami kematian. Salah satunya adalah Kardiomiopati, suatu penyakit otot jantung yang membuat jantung lebih, besar, tebal dan lebih kaku.

Terbatasnya Fasilitas  Kesehatan

Dari 4 penyebab, yang paling menyedihkan adalah penyebab kelima ini, yaitu terbatasnya fasilitas kesehatan. Akses terhadap fasilitas atau pelayanan kesehatan yang baik, terutama bagi ibu yang berada di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) menjadi salah satu penyebab kematian ibu.

Selain itu akses jalan yang rusak, terletak di sebuah pulau kecil yang mengharuskan menyebrang juga bisa membuat ibu bersalin terlambat mendapatkan pertolongan pertama.


Rosmiati, Bidan Inspiratif Penolong Ibu Bersalin



Perkenalkan, Bidan Rosmiati yang dianugerahi astra award pada tahun 2012 silam. Kisahnya menjadi seorang bidan di desa terpencil begitu mengugah hatiku. Bidan Ros, sapaannya adalah seorang alumnus D-3 Akademi Kebidanan Padang 2007 yang kemudian ditugaskan menjadi PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Puskesmas Pembantu Desa Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Teluk Balengkong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Kalian pernah mendengar nama desanya? begitulah saking terpencilnya desa berinfrasutruktur minim ini. Baru pertama datang Bidan Ros sudah dihadapkan pada kondisi masyarakat setempat yang memprihatinkan. "Tempat saya benar-benar terpencil, jauh sekali dari kota. Aliran listri tidak menyala selama 24 jam setiap hari," ujarnya. Kabar buruknya, angka kematian Ibu dan Bayi cukup tinggi dengan jumlah penduduk yang hanya sekitar seribuan saja. Nanti, inisiatif dirinya lah yang membuat ia memenangkan satu dari lima peraih astra award pada tahun 2012.

Lalu bagimana seorang sosok Bidan di desa terpencil bisa meraih penghargaan?


Wafatnya Seorang Ibu akibat Fasilitas tidak Memadai

Hari-harinya sebagai bidan tentu membantu persalinan para Ibu serta memberi penyuluhan mengenai kesehatan. Tak jarang, ia dihadapkan pada kasus kehamilan dan persalinan yang cukup ekstrim. Pernah suatu ketika ia diminta untuk membantu persalinan di desa kecamatan sebelah. Jarak cukup jauh diiringi akses jalan yang tidak baik, ia sempat tersesat masuk ke dalam hutan untuk kemudian sampai di rumah pasien yang ternyata kondisinya sungguh memprihatinkan. 

 

Sang Pasien memang sudah berhasil melahirkan dengan bantuan dukun bayi, akan tetapi tidak dengan plasenta yang masih tertinggal di dalam, tidak bisa dikeluarkan. Kondisi tersebut sudah terjadi selama kurang lebih 6 jam sehingga sang Ibu mengalami pendarahan berat. Melihat hal tersebut, spontan Bidan Ros merujuk pasien ke RSUD Kabupaten terdekat. 

Lagi-lagi ketidakberuntungan menghampiri, tidak ada ambulan atau mobil yang bisa membawa mereka sehingga evakuasi pasien harus menggunakan cara manual. Bergantian para warga menandu hingga dua jam kemudian tiba di bibir sungai. Maut tidak dapat dihindari, penyebrangan yang memakan waktu 4 jam lebih, membuat sang Ibu harus kehilangan nyawanya karena kehabisan darah. Di atas perahu setelah perjuangan luar biasa dibantu warga sekitar, Bayi yang baru dilahirkan itu harus rela kehilangan orang yang telah melahirkannya.

Sampai disini, sudah bersyukurkah kita yang tinggal dengan kemudahan akses?

Inisiasi Tabungan Ibu Hamil

Kasus tersebut tentu sangat memukul Bidan Ros. Sejak saat itu ia lebih memperhatikan kondisi pasiennya. Sekecil apapun permasalahan dalam kehamilan tidak bisa disepelekan. Apalagi penyulit persalinan harus mampu diantisipasi. Sudah terlalu lama kasus kematian Ibu dan Bayi menjadi momok menakutkan dan tidak kunjung terselesaikan.

Program pertama yang dirancangnya adalah khusus Ibu Hamil yaitu Dana Sehat Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin) dengan iuran pertama sebesar tiga puluh ribu rupiah dan selanjutnya tidak ada patokan. Tujuannya agar setiap warga memiliki dana persalinan jauh-jauh hari. Idenya disambut antusias warganya terutama kaum wanita sehingga ketika program ini berlangsung, ada yang sudah mempunyai tabungan hingga dua juta rupiah. Namun mengingat para warga yang memang berpenghasilan rendah, ada juga yang hingga tiba waktunya melahirkan hanya memiliki tabungan sebesar iuran awal. 

Berapa pun tabungan yang terkumpul akan dikembalikan secara utuh kepada pasien. Rosmiati tidak menarik potongan sepeserpun dari tabungan tersebut. Ia hanya ingin para warga mempersiapkan kelahiran karena tidak ada yang bisa memperkirakan persalinan akan berlangsung lancar. Program selanjutnya yang diusulkannya adalah iuran kesehatan wajib setiap keluarga sebesar dua ribu rupiah setiap bulannya guna menolong warga yang membutuhkan bantuan medis ke depannya.

 

Ide lainnya yang akhirnya dibantu koleganya adalah pengadaan ambulan air. Mengingat evakuasi yang sulit karena daerah terpencil. Berkat inisiatifnya, ia akhirnya diangkat menjadi koordinator bidang kecamatan. Kemudian ketika ia akhirnya meraih penghargaan Satu Indonesia Award 2012 di bidang kesehatan, sebagian hadiah yang ia terima digunakan untuk melengkapi fasilitas kesehatan di puskesmas tempat ia mengabdi. Sembari terus berharap bantuan ambulan perahu dapat bertambah sehingga kelak hal yang menjadi momok di desa tersebut, kematian ibu dan bayi bisa diatasi.


Foto diambil dari booklet Satu Indonesia Award (Inspirasi Penerang Negeri)

Demikianlah, semoga kita yang berkecukupan selalu mampu bersyukur dan semoga semakin banyak Rosmiati lainnya yang menjadi pahlawan bagi lingkungan tempat ia tinggal.

 

Posting Komentar

0 Komentar