Mangrove, Bukan sekedar Penjaga Ekosistem tetapi Sumber Kehidupan



Di tengah maraknya dunia per-konten-an di social media,  ada satu creator di Papua yang sedikit menggelitikku ketika melihat kontennya, yaitu tentang masyarakat yang menukar hasil dari kebun atau pantai dengan beras, mi instan bahkan biskuit.

Padahal di ingatan kecilku, disebutkan makanan pokok masyarakat Papua adalah sagu. Apakah makanan pokok mereka sudah berubah?

Lalu ketika aku dan teman-teman Eco Blogger mengikuti sebuah kisah inspiratif melalui online gathering bersama The Asia Foundation dengan narasumber Bung Daniel Kbarek dan salah satu komunitas dari kawan pesisir Raja Empat @kawanpesisirr4 Wawiyai Steve, seorang pemuda dari kampung Friwen, sebuah perkampungan indah yang terletak di distrik Waigeo Selatan, kabupaten raja empat yang menunjukkan bahwa mangrove bukan sekedar penjaga ekosistem, pelindung pantai, habitat berbagai biota, tapi bisa menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Dalam salah satu sesinya dia menjelaskan Kita (masyarakat Papua) tidak bisa selamanya bergantung kepada makanan yang tidak kita tanam (padi) jika suatu saat terjadi krisis pangan, maka satu-satunya pangan yang bisa kita konsumsi adalah hasil hutan kita sendiri. Maka, buah mangrove yang bisa dijadikan makanan ini sekaligus mengingatkan kita pada tradisi kuno masyarakat adat. 


Mangrove, di tanah mutiara hitam 

Apa yang teman-teman bayangkan ketika mendengar raja Ampat? tentu saja keindahan alamnya. Tapi ada cerita lain disana, tentang hutan mangrove yang bukan lagi sekedar menjadi penjaga pantai, tapi kini ia  double job yang berfungsi memperkuat ketahanan pangan.  

Apa sih yang dimaksud dengan mangrove? 

Mangrove adalah jenis tumbuhan yang hidup di kawasan pesisir pantai, muara sungai. Atau pertemuan antara daratan dan lautan.


Urgensi dan Potensi Mangrove Raja Ampat



Tumbuhan ini dikenal kuat karena bisa hidup di lingkungan ekstrim seperti kadar air yang terlalu asin, tanah berlumpur serta oksigen yang minim.

Nah, meskipun secara teori lingkungan asin tidak memungkinkan untuk tanaman bertumbuh. Tapi mangrove itu memiliki buah dan daun yang aman untuk dikonsumsi jika diolah dengan benar. Tradisi kuno ini kembali dilanjutkan karena setelah diteliti ternyata beberapa jenis mangrove memiliki kandungan karbohidrat dan vitiamin yang tinggi. 

Dampak Perubahan Iklim terhadap Ketahanan Lokal

Ancaman perubahan iklim nyata terjadi. perubahan cuaca ekstrim mempengaruhi siklus panen komoditas lokal, peningkatan air laut yang mengancam habitat pemijahan ikan dan krutasea yang menjadi sumber protein masyarakat

Artinya jika dulu, mangrove hanya dikenal sebagai penjaga pantai, kali ini bisa menjadi alternatif bahan pangan.

Kampung Frewen

Selain faktor alam yang mengancam keberlangsungan, faktor internal yang terjadi pada hutan mangrove yang mengalami degradasi akibat adanya pengambilan kayu untuk kebutuhan bahan baku utama resort yang akhirnya menginisiasi masyarakat kampung Frewen untuk restorasi mangrove.

3 hal yang mereka lakukan

  • pembibitan, persemaian dan penanaman di kawasan yang mengalami kerusakan
  • pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dan peningkatan ekonomi masyarakat
  • jasa lingkungan dan program adaptasi mangrove 

Nah point kedua inilah yang membuatku merasa sangat tertinggal karena baru tahu bahwa mangrove bisa dijadikan sumber pangan.

beberapa hasil pengolahan mangrove dari desa Frewen 



Pengolahan mangrove menjadi pangan ini tentunya tidak terlepas dari sosok para wanita. para mama-mama disanalah yang diajak berkontribusi. Wawiyai Steve dalam pemaparannya berulang kali menyebutkan peran wanita dalam menjaga rumah, menjaga hutan.


Nipah, si Penahan Abrasi sekaligus Penyegar Mulut




Pohon Nipah adalah satu-satunya jenis tumbuhan dari suku palem-paleman yang bisa beradaptasi dengan linkungan air payau dan daerah pasang surut. Akar pohon nipah yang kuat menjaga kestabilan garis pantai dan mencegah erosi di daerah pasang surut. Kabar baiknya lagi tumbuhan ini membantu mitigasi pemanasan global dengan menyerap karbon dioksida.

Selain sebagai pohon penjaga di pantai ternyata buah dan tandan bunganya dapat diolah. Daging dari buah nipah yang masih muda bertekstur kenyal sering digunakan sebagai pengganti kolang-kaling untuk campuran es buah atau diolah sebagai manisan.  Selain daging buahnya, cairan manis atau nira dari tandan bunga pohon nipah dapat dimasak dan disusutkan hingga mengental sehingga bisa menjadi gula ataupun sirup.

Masyallah ya, walaupun produk mangrove masih terlihar jarang dikonsumi, ternyata memiliki beragam kandungan nutrisi. Manfaatnya juga nggak main-main loh, bisa melancarkan pencernaan karena mengandung serat tinggi dan dapat mengendalikan kadar gula darah.

Sumatera Utara punya Cerita yang Sama

Begitu selesai mengikuti webinar mengenai si mangrove yang memiliki fungsi ganda dengan menjadi sumber ketahanan pangan, aku bergegas mencari tahu dan pikiranku langsung tertuju pada sebuah pantai di kampung suami alias rumah mertuaku di kabupaten Batubara.



Pantai Sejarah namannya, pantai yang tidak bisa disebut juga sebagai pantai karena airnya yang jarang ada alias selalu surut jarang pasang. Namun walau tidak ada air, kami kerap kesana menuruti keinginan anak-anak bermain pasir. Menghubungi seorang teman kecil yang juga tinggal disana dapatlah sebuah nama dibalik hutan mangrove.

Lewat tangan pak Azizi, masyarakat setempat sekaligus Ketua kelompok tani cinta mangrove terbentuk lah batubara Mangrove park yang terletak di pantai sejarah, desa Parupuk.



Dalam sebuah wawancara, beliau mengatakan "tempat ini kami belajar bahwa menjaga lingkungan itu bukan hanya soal pohon dan hutan, tetapi ini tentang masa depan, tentang harapan masyarakat kami khususnya masyarakat pesisir. setiap langkah kami yang kecil, akan membawa dampak yang lebih besar."

Lebih lanjut, selain menanami kembali jenis mangrove lainnya, beliau juga menginisiasi pengolahan mangrove menjadi sumber pangan. Beberapa jenis mangrove yang sudah diolah ada berupa makanan, minuman bahkan kain batik dengan bahan pewarna dari  ekstrak tanaman mangrove. Buah nipah yang banyak di pantai sejarah juga tidak ketinggalan diolah menjadi gula cair.

Lalu ketika kutanya pada temanku, apakah hal ini masih berlanjut? katanya masih dan selalu hadir dalam bazar kuliner lokal. Tapi sebagaimana kita tahu umkm lokal belum terlalu konsisten dalam hal produksinya. 

Semoga pengolahan mangrove menjadi pangan dan tentunya tetap memperhatikan lingkungan, baik yang di Raja Ampat dan Batubara bisa menjadi perhatian pemerintah setempat untuk terus didukung. Demi masa depan masyarakat Pesisir yang lebih baik. Semo




Di tempat kalian, apakah sudah ada pengolahan mangrove, gaes?



















Posting Komentar

20 Komentar

  1. Jadi pengen main langsung deh ke hutan manggrove. Pasti seru lihat asrinya hijau pepohonan.

    BalasHapus
  2. aku sempet ngira nipah itu nyiur itu mbak. Ternyata beda ya. Lihat buahnya tuh beda banget. wkwkw.. Dan aku nggak terlalu akrab sama namanya nipah ini, hanya pernah denger sekali dua kali pas tinggal di Banyuwangi dulu, dan nggak tahu bentukan buahnya. 🥰

    Ternyata ekosistem kita tuh banyak banget yg punya peran multiguna ya. Mau itu mangrove, nipah, atau yg lainnya tergantung kondisin lingkungannya. Makanya kok ya sayang banget kalau hutan kita terjajah tanpa diberi kesempatan hidup lagi.. 🥲

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes kak negeri secantik ini, dengan hutan dan alam yg indah harusnya kita udah kaya raya dengan keindahan dan fungsional semua tumbuhan yg ada di atasnya, kek mangrove yang punya double job ini menjaga dan menghasilkan

      Hapus
  3. Menarik kak aq baru tahu ada batubara mangrove park. Penasaran dengan gula cair nipahnya. Mau buat ngopi cocok ga ya? Apakah bisa diorder online?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah masalah produksinya ini yg UMKM masih sulit, kemarin ketika ku tanya sama temenku masih ikut jika ada pameran tapi produksi berkelanjutan itu sepertinya belum kak hehe

      Hapus
  4. Mampir ke sini ga cuma disuguhi sarapan Mangrove dari Friwen tapi juga ada Nipah, jujur aku baru tahu Mba ttg Nipah hahaha rasanya senang bisa kenal Nipah menambah lagi deretan tanaman pelindung ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi kita jadi dipaksa cari tahu nih dari friwen, kalau ga gegara Ebs kita bakalan gatau keknya kakk hihi

      Hapus
  5. Ada kak di tempatku mangrove, tapi karena lokasi pantai agak jauh ya jarang juga kami bertemu tanaman ini. Tapi sepertinya belum ada umkm yg di berdayakn buat mengolah hasilnya. Padahal di papua keren bgt ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga kalau nggak karena friwen ga tau kalau di kampung suami sudah diberdayakan begini kak hehe padahal mayan sering main ke pantainya kalau lagi ke rumah mertua

      Hapus
  6. Ada kak di Surabaya pengolahan buah mangrove jenis bogem atau pidada juga. Tapi aku kurang paham apakah sudah dilakukan konservasi mangrove juga seperti di Raja Ampat

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga pada nyusul kek raja Ampat yakak biar masyarakat ikut terpanggil menjaga alam dan syukur bisa nambah membantu perekonomian

      Hapus
  7. mereka bisa mengelola mangrove yang kurang identik dengan papua menjadi ekowisata yang menarik termasuk dengan mama-mama friwen

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes bawaanya kalau Papua alam indah, terumbu karang, ga nyangka mangrove juga dimanfaatkan

      Hapus
  8. Kalo kita mikirnya dulu mangrove itu memang kayak hutan pelindung gitu aja yaa kak... Namun makin ke sini ilmu itu berkembang, kayak apa2 makanan pokok kita kadang ada karena adanya mangrove ini yaa kak.. Sebuah wawasan baru dan memang patut kita jaga terus deh mangrove ini, karena mangrove udah jadi penghidupan masyarakat baik d sekitar pesisir maupun yg di luar pesisir pantai...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak dulu kek dipandang sebelah mata ternyata masyaallah fungsi ganda

      Hapus
  9. Pohon nipah apakah mirip dengan pohon siwalan, Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kali ya kak, kakak tinggal daerah mana ? di Indonesia ini kadang 1 benda/buah beda penyebutan ternyata bentukan nya sama

      Hapus
  10. Upaya kolaborasi di Friwen sangat potensial untuk dicontoh daerah lain sih. Pastinya di setiap daerah pantai, selayaknya ada tanaman mangrove, tapi belum semua potensi mangrove dimanfaatkan dengan baik terutama untuk ekonomi masyarakat setempatnya. Bagusnya kan literasi lingkungan ok, ekonomi ok. Di Friwen semuanya sudah berjalan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga setelah banyak kita share tentang friwen dan di kotaku sendiri, kota lain yang belum mengolah bisa memanfaatkan mangrove juga apalagi jika ekonomi masyarakat bisa terbantu ya kak

      Hapus